Realistis
Advokasi
yang berhasil bersandar pada isu dan agenda yang spesilik, jelas, dan terukur
(measurable). Karena manusia tidak mungkin melakukan segala hal, maka tersebut
harus diseleksi dan dibuat skala prioritas untuk memutuskan pilihan. Pilihlah
isu dan agenda yang realistis dan karenanya dapat dicapai (achievable) dalam
kurang waktu tertentu (time-bound). Jangan buang energi dan waktu dengan
pilihan yang tidak mungkin dicapai. Gagas kemenangan-kemanangan kecil namun
konsisten. Sekecil apapun, keberhasilan senantiasa memberi motivasi. Kegagalan
yang terus-menerus bisa berujung pada frustasi dan ketidakpercayaan masyarakat.
Sistematis
Advokasi adalah seni, tetapi bukan lukisan abstrak. Advokasi memerlukan
perencanaan yang akurat. If we fail to plan, we plan to jail, artinya jika kita
gagal merencanakan, maka itu berarti kita sedang merencanakan kegagalan. Kemas
informasi semenarik mungkin. Libatkan media secara efektif. Proses advokasi
dapat dimulai dengan memilih dan mendefinisikan isu strategis, membangun opini
dan mendukungnya dengan fakta, memahami sistem kebijakan publik, membangun
koalisi, merancang sasaran dan taktik, memengaruhi pembuat kebijakan, dan
memantau serta menilai gerakan atau program yang dilakukan. Satu contoh yang
patut di tiru adalah kabupaten Lumajang yang mendapatkan penghargaan dalam
bidang inovasi kesehatan 2008 oleh Jawa Pos dalam otonomi daerah. Di Lumajang,
hampir setiap gapura, tembok pinggir jalan, gang besar dan gang kecil dari
kabupaten sampai ke pelosok dapat dijumpai tulisan GERBANGMAS yang merupakan
singkatan dari Gerakan Pembangunan Masyarakat. Tulisan tersebut telah mampu
menguhah opini publik masyarakat Lumajang bahwa “Masyarakat Lumajang sehat,
maka Lumajang kuat”. Sehingga tak salah jika berbagai kegiatan kesehatan yang
berbasiskan masyarakat menjadi hidup dan menjadi bagian yang tak terpisahkan.
Di sinilah arti potting kebijakan yang terencana dalam mengubah hajat hidup
orang banyak.